Banjir Luapan Bengawan Jero: Ujian Keterpaduan dan Ketahanan Masyarakat Lamongan

Investigasi25 Views
banner 468x60

Lamongan, Lenteranusantaranews.com

Banjir akibat luapan Sungai Bengawan Jero kembali menguji ketahanan masyarakat Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Sebanyak tidak kurang dari 1.206 unit rumah serta 2.632 hektare lahan sawah dan tambak kini masih tergenang air, setelah fenomena ini mulai terjadi sejak sepekan yang lalu dan menyebar hingga lima kecamatan di wilayah tersebut.

banner 336x280

Dalam keterangannya pada hari Rabu (14/1/2026), Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Lamongan, Sugeng Widodo, mengakui kondisi yang tengah dihadapi bersama. “Iya, sejak sepekan ini banjir mengenangi lima kecamatan,” ujarnya dengan nada yang penuh pemahaman terhadap situasi yang terjadi.

Wilayah yang terdampak mencakup Kecamatan Kalitengah, Turi, Karangbinangun, Deket, dan Glagah. Di antara kelima kecamatan tersebut, Kalitengah menjadi wilayah yang merasakan dampak paling berat dengan 374 unit rumah terendam, diikuti oleh Kecamatan Turi dengan 423 unit rumah. Tak hanya menghambat aktivitas rumah tangga, banjir juga menyentuh aspek penting kehidupan masyarakat: sebanyak 14.770 meter jalan poros lingkungan tidak dapat digunakan dengan lancar, sementara lahan pertanian dan tambak seluas 2.632 hektare harus berhenti berproduksi untuk sementara waktu.

Fasilitas umum yang menjadi jantung aktivitas masyarakat juga tidak luput dari dampak. Sebanyak 14 unit masjid dan musala tergenang, dengan enam di antaranya berada di Kecamatan Deket. Dua puskesmas di Kalitengah serta empat balai desa di Kalitengah dan Glagah juga harus menyesuaikan pelayanannya guna tetap dapat melayani masyarakat.

Dengan tinggi genangan berkisar antara 10 hingga 30 sentimeter, ternyata masyarakat telah menemukan cara untuk tetap menjalankan ritme kehidupan sehari-hari. Menurut Sugeng Widodo, luapan Bengawan Jero bukanlah hal baru bagi mereka. “Jadi warga sudah terbiasa sehingga mereka total bertahan dan beraktivitas seperti biasa,” jelasnya, mencerminkan kedalaman hubungan antara masyarakat dengan sungai yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka dari generasi ke generasi.

Namun, di balik ketahanan yang patut dihargai, kita menyadari bahwa banjir yang datang setiap tahun membawa tantangan yang berkelanjutan. Bagi mereka yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perikanan, kerugian material yang terjadi serta potensi gangguan jangka panjang terhadap mata pencarian adalah hal yang tidak dapat diabaikan.

Ini menjadi panggilan bagi seluruh elemen masyarakat, pemerintah, tokoh masyarakat, dan warga sendiri, untuk terus bekerja sama dalam mencari solusi yang berkelanjutan, sekaligus menghargai kedalaman akar budaya yang telah membuat mereka mampu menghadapi ujian ini dengan hati yang penuh kesabaran dan kebersamaan.

(Sut)

banner 336x280